Foto ilustrasi Pick me

Pikmi” adalah istilah populer di media sosial Indonesia, yang merupakan adaptasi dari frasa “pick me” dalam bahasa Inggris. Istilah ini merujuk pada perilaku seseorang yang terus-menerus mencari perhatian dan persetujuan dari orang lain, bahkan sampai menjatuhkan orang lain demi mendapatkan pengakuan.

Asal Usul Pikmi

Istilah “pikmi” berakar dari kata “pick me” yang mulai viral di internet sejak 2018, terutama di Twitter dengan tagar #TweetLikeaPickMe. Dalam kampanye ini, banyak perempuan memposting tentang bagaimana mereka bisa menjadi pacar yang baik, dengan tujuan utama untuk menarik perhatian laki-laki. Dari sinilah muncul istilah “pick me girl,” yang menggambarkan perempuan yang berusaha tampil beda dari yang lain demi mengesankan lawan jenis.

Menurut Urban Dictionary, “pick me girl” adalah perempuan yang sering merendahkan diri atau bahkan orang lain untuk mendapatkan validasi dari laki-laki. Mereka cenderung menjauhi perempuan lain dan lebih nyaman bergaul dengan laki-laki, karena mereka merasa perempuan lain terlalu banyak drama dan menganggap diri mereka lebih mirip dengan laki-laki.

Seiring waktu, istilah ini berkembang dan melahirkan istilah “pick me boy,” yang merujuk pada laki-laki dengan perilaku serupa untuk menarik perhatian perempuan. Kedua istilah ini kemudian meledak di TikTok pada 2021, dengan banyaknya parodi dan konten tentang “pick me girl” dan “pick me boy.”

Penyebaran di Indonesia

Tren ini menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia, dengan adaptasi lokal menjadi “pikmi.” Penggunaan kata “pikmi” ini adalah plesetan dari pengucapan asli “pick me,” dan dengan cepat menjadi bagian dari bahasa gaul di kalangan pengguna internet di Indonesia.

Menghindari Perilaku Pikmi

Perilaku pikmi sering kali mendapat kritik karena dianggap manipulatif dan tidak tulus, sehingga cenderung tidak disukai oleh lingkungan sekitar. Untuk menghindari perilaku ini, berikut dua tips utama yang bisa diikuti:

1. Menjadi Diri Sendiri

Penting untuk selalu menjadi diri sendiri tanpa berpura-pura atau berbohong demi mendapatkan perhatian. Ketulusan adalah kunci untuk membangun hubungan yang sehat dan autentik dengan orang lain.

2. Menghargai Diri Sendiri dan Orang Lain 

Hindari merendahkan diri sendiri atau menjatuhkan orang lain demi mendapatkan validasi. Menghargai diri sendiri dan orang-orang di sekitar adalah fondasi untuk hubungan sosial yang baik dan saling menghormati.

Kesimpulan

Istilah “pikmi” adalah contoh bagaimana bahasa dan budaya internet dapat berkembang dan menyebar dengan cepat, menyeberangi batasan geografis dan budaya. Meski perilaku pikmi bisa menarik perhatian, penting untuk diingat bahwa autentisitas dan rasa hormat kepada diri sendiri dan orang lain adalah nilai-nilai yang lebih berharga dalam membangun hubungan sosial yang sehat.