Perjalanan ini sudah terlalu panjang, namun serasa singkat untuk dilalui. Aku masih mengingat pelukan itu, pelukan yang penuh dengan kasih sayang. Dia menimang-nimangku saat aku harus menjalani ujian hidup untuk pertama kalinya di saat aku belum tau apa-apa. 

Aku masih mengingat betul ketika aku harus menjalani rutinitas saat aku dirawat karena penyakit yang aku derita. Saat itu aku berusia tak lebih dari 4 tahun, aku belum mengenal dunia sekolah, yang kuingat dunia dimana aku belajar mengeja huruf arab, bapak sendiri yang mengajarkannya. Aku masih mengingat betul masa-masa itu, terekam rapi dalam memori kenangan. 
Di saat aku mulai menginjakkan kaki di dunia baru, dunia taman kanak-kanak yang asik tapi penuh dengan trauma-trauma kehidupan. Entah kenapa waktu itu aku harus mempunyai bisul di kepalaku sehingga tak jarang menjadi bullyan teman-teman nakal. Hidupku merasa tertindas waktu itu. Untuk melangkahkan kaki ke sekolah rasanya membawa beban berat yang tiada terkira. Sahabatku pun tak cukup mampu menjadi pelindungku dari ejekan teman-teman, hanya saja cukup menjadi tempat berkawan di saat yang lain mengabaikan. 
Melangkah ke jenjang taman kanak-kanak B, aku mulai terbiasa dengan lingkungan pertemanan. Permainan pun serasa lebih menyenangkan, namun masalah baru muncul begitu saja. Aku yang dulu dianggap mampu mewakili teman-teman untuk mengikuti lomba, menjadi bumerang bagi diri ini. Bullyan yang telah hilang kini kembali datang dengan versi lain yang lebih membebankan. Kalian tak perlu tau atas dasar apa mereka membullyku. Yang jelas waktu itu aku malu, aku merasa terpojokkan dan serasa dunia cukup sempit untuk sekedar bersembunyi. Kedua tanganku pun tak cukup untuk menutup kedua telinga. Seakan-akan ejekan itu terngiang-ngiang dalam pikiran. 
*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-